Google Uji Login Akun Pakai Video Selfie, Password Mulai Ditinggalkan?

Google Uji Login Akun Pakai Video Selfie, Password Mulai Ditinggalkan?

Google tengah menguji sistem login baru menggunakan video selfie sebagai lapisan keamanan tambahan. Teknologi ini diklaim mampu memverifikasi identitas pengguna dengan lebih akurat sekaligus mempersulit upaya peretasan dan penyalahgunaan akun. Apakah ini-foto:ist-

OKINEWS.CO - Google kembali menghadirkan inovasi pada sistem keamanan akun dengan menguji metode login menggunakan video selfie.

Fitur ini dirancang sebagai lapisan verifikasi tambahan untuk memastikan bahwa orang yang mencoba mengakses akun benar-benar merupakan pemilik sah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat perlindungan terhadap ancaman peretasan, pencurian identitas, hingga penyalahgunaan akun di era digital.

Selama beberapa tahun terakhir, Google telah mengembangkan berbagai metode autentikasi, mulai dari kata sandi, verifikasi dua langkah (2FA), kode OTP, hingga penggunaan passkey yang lebih aman.

BACA JUGA:AC Standing untuk Ruangan Luas, Ini Merek, Harga dan Spesifikasinya

BACA JUGA:Tampil Stylish Tanpa Berlebihan, Cardigan UNIQLO Jadi Pilihan Anak Muda

Kini, perusahaan tersebut mulai mengeksplorasi pemanfaatan video selfie sebagai salah satu bentuk verifikasi identitas yang lebih canggih.

Berbeda dengan foto statis, sistem video selfie meminta pengguna merekam wajah mereka dalam bentuk video singkat.

Teknologi kemudian akan menganalisis sejumlah karakteristik, seperti gerakan alami wajah, sudut pandang, dan indikator keaslian lainnya.

Pendekatan ini dinilai lebih sulit dipalsukan dibandingkan penggunaan foto biasa yang berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

BACA JUGA:Camping Pertama di 2026? Ini Peralatan yang Wajib Disiapkan Pemula

BACA JUGA:Ingin Olahraga Makin Nyaman? Ini 5 Training Berkualitas yang Bisa Jadi Pilihan

Menurut pengamat keamanan digital, teknologi verifikasi berbasis video mampu meningkatkan tingkat kepercayaan sistem karena dapat mendeteksi upaya manipulasi menggunakan gambar, rekaman lama, maupun teknik pemalsuan berbasis kecerdasan buatan.

Meski demikian, efektivitas fitur tersebut tetap bergantung pada pengembangan algoritma dan perlindungan data pribadi pengguna.

Sumber: