Dari Banyuwangi ke Pasar Lebih Luas, Petani Buah Naga Naik Kelas Berkat Program Klasterku Hidupku BRI
Petani buah naga Banyuwangi tumbuh dan naik kelas lewat Program Klasterku Hidupku BRI, dari penguatan modal hingga inovasi produksi.-Foto: Ist-
OKINEWS.CO – Sejak lama, Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah dengan denyut kehidupan pertanian yang kuat.
Di tengah hamparan lahan yang subur, para petani terus beradaptasi, mencoba berbagai komoditas, dan mencari cara baru untuk meningkatkan hasil panen.
Dari proses tersebut, lahir sebuah Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi yang kini mampu mengembangkan inovasi dan meningkatkan produksi berkat dukungan program Klasterku Hidupku BRI.
Dipimpin oleh Edy, Kelompok Petani Buah Naga Panaba mulai mengembangkan buah naga sebagai komoditas pertanian di Banyuwangi. Saat itu, Edy melihat potensi buah naga sebagai peluang usaha dan mengajak petani lain untuk membudidayakannya secara bersama-sama.
BACA JUGA:Honda ADV 160 vs Aprilia SR-GT 2026: Nyaman Touring atau Sekadar Kencang?
BACA JUGA:Irit, Bandel, Harga Stabil! Honda Brio 2023 Jadi Mobil Anak Muda yang Gak Pernah Mati Gaya
“Klaster buah naga ini kami bentuk pada tahun 2016. Waktu itu, jumlah tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, namun mulai muncul berbagai masalah, seperti serangan penyakit dan pasar yang menjadi over saat produksi meningkat. Makanya kami membentuk Klaster Petani Buah Naga (Panaba) untuk mengatasi masalah tersebut bersama teman-teman petani,” kata Edy.
Setelah klaster terbentuk, para petani mulai memiliki ruang untuk berdiskusi dan saling menguatkan.
Klaster Panaba menjadi tempat berbagi informasi, menyamakan langkah, serta mencari solusi bersama atas persoalan yang dihadapi di lapangan.
Selain aspek teknis, Klaster Panaba juga berperan dalam menjaga stabilitas harga dan melindungi petani dari permainan harga.
BACA JUGA:Anti Lengket & Super Nyaman, Emina Rilis UV Gel SPF 50, Ringan Dipakai Seharian Tanpa White Cast
BACA JUGA:Heels YSL Bikin Foto OOTD Naik Level, Dipakai Nongkrong atau Kondangan Tetap On Point Kok!
“Pedagang yang ikut klaster mengikuti pedoman harga. Misalnya, jika di pasar Rp10.000, mereka membeli dari petani minimal Rp7.000. Pedagang yang tidak ikut klaster biasanya memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga,” ujar Edy.
Terus Berkembang lewat Program Klasterku Hidupku BRI
Sumber: