Selain itu, fitur ponsel pintar di dalam permainan—yang menjadi salah satu elemen paling ikonik dan interaktif dari Until Then—juga mendapatkan peningkatan besar.
Pemain kini bisa menggunakan aplikasi kencan fiktif dan platform berbagi konten video pendek untuk berinteraksi dengan karakter lain, melihat profil mereka, dan menyelami budaya pop di dalam semesta game tersebut.
Menariknya, DLC ini juga menyelipkan referensi kuat pada budaya lokal, termasuk latar tempat yang terinspirasi dari kampus UP Diliman.
Pengumuman Afterimages di ajang ini juga diiringi dengan kabar gembira bagi para pengguna konsol besutan Microsoft.
Untuk pertama kalinya, Until Then bersama dengan tambahan konten Afterimages akan menyambangi konsol Xbox Series X dan Series S pada tahun 2026.
Sebelumnya, game ini hanya tersedia untuk platform PlayStation 5, Nintendo Switch, dan PC melalui Steam.
Langkah ekspansi ini membuktikan kesuksesan besar yang berhasil diraih oleh Polychroma Games, mengingat Until Then sebelumnya sukses meraih predikat "Overwhelmingly Positive" dari ribuan ulasan di platform Steam berkat gaya visual pixel art yang sinematik dan representasi budaya Asia Tenggara yang sangat otentik.
Respons komunitas gamer terhadap pengumuman Afterimages terbukti sangat positif dan antusias.
Di berbagai forum internet dan media sosial, banyak pemain yang mengaku terkejut karena sebuah game naratif indie bisa mendapatkan dukungan konten tambahan yang begitu masif dan terkonsep.
Keputusan Polychroma Games untuk tidak sekadar menambahkan epilog singkat, tetapi mendedikasikan dua chapter penuh demi mengeksplorasi fase pendewasaan karakter, dinilai sebagai langkah yang sangat tepat.
Walaupun tanggal rilis pastinya di tahun 2026 masih dirahasiakan, para penggemar sudah tidak sabar untuk kembali larut dalam alunan musik lofi yang indah dan cerita melankolis yang menjadi ciri khas Until Then.