Dalam konteks keberlanjutan, pendekatan ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mengurangi kebutuhan penggantian perangkat keras secara rutin serta menekan konsumsi energi pusat data.
Microsoft menegaskan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari visi jangka panjang perusahaan dalam membangun infrastruktur cloud yang lebih tahan lama dan berkelanjutan.
“Project Silica adalah upaya kami untuk menciptakan media penyimpanan arsip yang mampu bertahan selama ribuan tahun, tanpa ketergantungan pada energi aktif dan tanpa risiko degradasi seperti media konvensional,” dikutip okinews.co dalam pernyataan resmi Microsoft.
Dalam kesempatan lain, perwakilan Microsoft juga menambahkan bahwa Project Silica membuka kemungkinan baru dalam menjaga warisan digital umat manusia, solusi arsip jangka panjang yang stabil dan aman.
Alasan utama diciptakannya Project Silica adalah meningkatnya biaya operasional dan risiko pada sistem penyimpanan tradisional.
Media magnetik harus diganti setiap beberapa tahun untuk mencegah kehilangan data, sementara pusat data modern mengonsumsi energi besar demi menjaga suhu dan stabilitas perangkat.
Dengan teknologi berbasis kaca, data dapat disimpan secara pasif dalam jangka waktu sangat panjang tanpa intervensi rutin.
Meski menjanjikan, Project Silica masih dalam tahap pengembangan lanjutan.
Tantangan terbesar terletak pada optimalisasi kecepatan baca dan tulis agar lebih efisien untuk skala besar.
Namun, fokus utama teknologi ini bukanlah kecepatan seperti SSD modern, melainkan ketahanan ekstrem dan stabilitas jangka panjang.
Melalui Project Silica, Microsoft memperlihatkan pendekatan baru dalam dunia penyimpanan data: bukan sekadar menyimpan informasi untuk beberapa tahun, melainkan mengamankan memori digital peradaban manusia hingga ribuan tahun ke depan.
Jika berhasil diimplementasikan secara luas, teknologi ini berpotensi menjadi standar baru dalam pengarsipan global.