Protes Komunitas Memuncak, Sistem Klasifikasi IGRS di Steam Dinilai Tidak Akurat
Penerapan sistem klasifikasi IGRS di platform Steam kini menuai kontroversi tajam di kalangan gamer akibat maraknya kasus miss rating, di mana banyak game berunsur dewasa justru keliru mendapat label aman untuk anak-anak.-Foto: Ist-
OKINEWS.CO - Penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) di platform distribusi digital Steam, yang awalnya diharapkan menjadi benteng perlindungan bagi konsumen, kini justru menuai polemik tajam.
Alih-alih memberikan panduan batas usia yang jelas dan dapat diandalkan, belakangan ini komunitas gamer Tanah Air disuguhkan dengan fenomena miss rating atau ketidakakuratan klasifikasi umur pada berbagai judul game.
Kontroversi ini memicu perdebatan hangat di forum-forum diskusi dan media sosial, di mana banyak pihak mempertanyakan kredibilitas serta keandalan sistem penyaringan konten yang digagas oleh pemerintah tersebut.
Inti dari permasalahan miss rating ini terletak pada perbedaan yang sangat mencolok antara label usia yang tertera melalui IGRS dengan konten aktual yang disajikan di dalam permainan.
BACA JUGA:Tingkatkan Keamanan, Denuvo Terapkan Teknologi Hypervisor Anti-Cheat
BACA JUGA:Awas! Terlalu Sering Pakai AI, Otak Bisa Kelelahan Tanpa Disadari
Beberapa kasus yang disorot oleh para gamer menunjukkan anomali yang cukup meresahkan.
Sebagai contoh, ditemukan beberapa game indie dengan unsur kekerasan eksplisit atau tema psikologis berat yang justru melenggang dengan label 13+ atau bahkan SU (Semua Umur).
Sebaliknya, ada pula game simulasi kasual yang sangat aman dimainkan anak-anak namun secara mengejutkan dilabeli 18+ hanya karena sistem mendeteksi kata kunci tertentu di luar konteks.
Ketimpangan ini menjadi sangat kentara ketika para gamer membandingkannya dengan standar rating internasional yang lebih mapan, seperti ESRB di Amerika atau PEGI di Eropa.
BACA JUGA:iOS 26. 5 Beta Resmi Dirilis, Ini Daftar Fitur Baru yang Wajib Dicoba di iPhone
BACA JUGA:Selamat Tinggal Boros RAM, Google Perkenalkan Inovasi AI Bernama TurboQuant
Munculnya kekeliruan klasifikasi yang berulang ini memicu pertanyaan besar: mengapa sistem sekelas IGRS bisa kebobolan begitu saja di platform raksasa seperti Steam? Salah satu faktor utama yang disoroti oleh pengamat industri game adalah penerapan sistem self-assessment atau penilaian mandiri.
Saat mendaftarkan game mereka ke sistem IGRS, developer dan publisher diminta untuk mengisi kuesioner seputar konten game yang mereka buat.
Sumber: