Bukan Sekadar Hiburan, Media Sosial Adalah Pencuri Fokus Membaca

Bukan Sekadar Hiburan, Media Sosial Adalah Pencuri Fokus Membaca

Media sosial bukan cuma soal hiburan, tapi juga tantangan bagi literasi anak. Penggunaan bahasa gaul digital dan durasi video yang singkat berisiko memangkas kosa kata formal serta daya konsentrasi anak dalam membaca.-Foto: ist-

OKINEWS.CO - Di era di mana jempol lebih aktif daripada mata yang menelusuri baris kalimat, dunia pendidikan menghadapi tantangan baru yang masif.

Media sosial, dengan algoritma yang dirancang untuk memberikan kepuasan instan, disinyalir menjadi penyebab utama menurunnya daya konsentrasi dan kemampuan membaca mendalam (deep reading) pada anak-anak.

Fenomena ini bukan sekadar tren sementara, melainkan pergeseran kognitif yang mengkhawatirkan.

Erosi Kosakata dalam Budaya Singkatan

BACA JUGA:Tipis nan Bertenaga, Begini Keunggulan Samsung A57 5G yang Bikin Melongo.

BACA JUGA:Fakta atau Mitos: Dampak Headphone Bluetooth terhadap Kesehatan Otak

Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam ekosistem komunikasi yang sangat ringkas.

Penggunaan bahasa dalam platform seperti TikTok, Instagram, atau WhatsApp cenderung memprioritaskan efisiensi di atas estetika dan tata bahasa.

Penggunaan bahasa gaul (slang) dan singkatan yang ekstrem membuat anak-anak kesulitan saat dihadapkan pada teks akademis atau literatur klasik.

Akibatnya, kosa kata mereka menjadi sangat terbatas pada istilah-istilah populer di internet, sementara kekayaan kosa kata formal mulai memudar.

BACA JUGA:Masih Bingung Baju Lebaran? Intip Koleksi Gamis Paling Estetik Ini!

BACA JUGA:Misteri Penciuman: Rahasia Parfum yang Mampu Memutar Balik Waktu

Distraksi Visual vs Imajinasi Tekstual

Membaca buku membutuhkan upaya kognitif untuk membangun visualisasi dalam pikiran.

Sumber: