Ada beberapa tanda yang dapat membantu mengenali kemungkinan sebuah konten merupakan deepfake.
Pertama, perhatikan gerakan bibir dan sinkronisasi suara.
Pada beberapa video manipulasi, gerakan mulut terlihat kurang selaras dengan suara yang terdengar.
Kedua, amati ekspresi wajah dan gerakan mata.
Deepfake berkualitas rendah terkadang menampilkan kedipan mata yang tidak alami, perubahan ekspresi yang kaku, atau gerakan kepala yang tampak tidak wajar.
Ketiga, periksa pencahayaan dan bayangan pada wajah.
Manipulasi AI terkadang menghasilkan pencahayaan yang tidak konsisten dengan lingkungan sekitar sehingga menciptakan kesan visual yang ganjil.
Selain itu, kualitas gambar yang berubah-ubah di sekitar wajah juga bisa menjadi indikator adanya proses manipulasi digital.
Bagian rambut, telinga, atau tepi wajah sering kali terlihat kabur ketika video diputar secara perlahan.
Langkah berikutnya adalah memverifikasi sumber informasi.
Pastikan video berasal dari akun resmi atau media terpercaya.
Jika sebuah video hanya beredar melalui pesan berantai atau akun yang tidak dikenal, masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayainya.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan pemeriksa fakta atau melakukan pencarian balik gambar untuk mengetahui apakah konten tersebut pernah dipublikasikan sebelumnya dengan konteks yang berbeda.
Kebiasaan melakukan verifikasi sederhana dapat mengurangi risiko penyebaran informasi palsu.
Pemerintah, perusahaan teknologi, dan platform media sosial juga terus mengembangkan sistem pendeteksi deepfake berbasis AI.
Teknologi tersebut dirancang untuk mengenali pola manipulasi digital sehingga konten yang mencurigakan dapat diberi peringatan atau dibatasi penyebarannya.