OKINEWS.CO - Dunia teknologi sedang berada di persimpangan jalan yang krusial.
Selama lebih dari satu dekade, tablet konvensional dengan desain layar kaku telah menjadi penghuni setia tas para profesional dan pelajar.
Namun, seiring dengan detak waktu menuju pertengahan 2026, sebuah pertanyaan besar muncul ke permukaan: apakah tablet yang kita kenal sekarang sedang menghitung hari menuju kepunahan?
Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan.
BACA JUGA:Samsung Galaxy A57 5G: Cita Rasa Flagship, Harga Tetap Masuk Akal!
BACA JUGA:Bukan Cuma Hitam Polos, Ini 7 Sepatu SMA yang Bikin Kamu Jadi Trendsetter Sekolah!
Munculnya teknologi layar lipat (foldable) yang semakin matang dan terjangkau menjadi ancaman pertama.
Jika sebuah smartphone dapat dibuka menjadi layar seukuran tablet, kebutuhan untuk membawa perangkat tambahan menjadi berkurang.
Efisiensi ruang dan fungsionalitas ganda ini membuat konsumen mulai melirik perangkat yang mampu bertransformasi, meninggalkan desain "papan" statis yang selama ini mendominasi pasar.
Selain itu, batasan antara tablet dan laptop semakin kabur. Dengan sistem operasi yang semakin canggih, tablet masa kini dituntut untuk melakukan pekerjaan berat seperti penyuntingan video 8K atau manajemen basis data yang kompleks.
BACA JUGA:Bukan Rumor Lagi! Samsung Galaxy A27 Muncul di Website Resmi, Segera Rilis
BACA JUGA:Update Harga iPhone Second Mei 2026, Mulai 3 Jutaan hingga Belasan Juta
Tablet konvensional yang hanya berfungsi sebagai alat konsumsi konten—seperti menonton film atau membaca buku digital—kini mendapatkan persaingan ketat dari laptop ultra-thin yang layarnya bisa dilepas.
Konsumen cenderung memilih satu perangkat yang bisa melakukan segalanya daripada memiliki banyak gadget yang fungsinya tumpang tindih.
Namun, menyatakan tablet konvensional akan punah total mungkin terlalu prematur.