OKINEWS.CO - Ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menuntut kesiapan fisik yang prima.
Bagi pengidap penyakit jantung, keputusan untuk berpuasa perlu dipertimbangkan dengan matang.
Kondisi medis tertentu memang membuat sebagian pasien tidak disarankan menjalani puasa.
Namun, dalam situasi yang stabil dan terkontrol, peluang untuk tetap beribadah tetap terbuka.
BACA JUGA:Sahur Anti Lapar: Rahasia Menu Indeks Glikemik Rendah agar Kuat Puasa Seharian
BACA JUGA:Pre-Ramadhan Detox: Strategi Adaptasi Tubuh Jelang Puasa Ramadan 2026
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi di Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin Palembang, dr Adrian Masno Sp.JP(K)-FIHA, FAsCC, menegaskan pentingnya konsultasi sebelum memulai puasa.
Menurutnya, evaluasi medis menjadi langkah awal yang tidak boleh dilewatkan.
“Sebelum memutuskan berpuasa, pasien harus berkonsultasi terlebih dahulu untuk memastikan kondisi jantungnya cukup stabil,” jelas dr Adrian dikutip okinews dari sumateraekspres.id
Sahur Jadi Penentu Energi Seharian
BACA JUGA:Hukum Membatalkan Puasa Alias Mokel dengan Sengaja Menurut Empat Mazhab
BACA JUGA:Puasa Tetap Fit, Ini Cara Menjaga Kondisi Tubuh Optimal
Asupan saat sahur memegang peranan besar dalam menjaga kestabilan tubuh selama berpuasa.
Pasien jantung dianjurkan memilih makanan bergizi seimbang, rendah garam, rendah minyak, serta tinggi protein.
Nutrisi yang tepat membantu tubuh tetap bertenaga tanpa membebani kerja jantung.