Gawat, Tren Olahraga Dunia Ternyata Bisa Bikin Data Pribadi Terancam Bocor, Kok Bisa?

Minggu 15-02-2026,20:10 WIB
Reporter : Rohim
Editor : Alfery

Skema penipuan semacam ini dinilai semakin mudah karena didukung data aktivitas yang tampak nyata.

Tak hanya itu, ancaman doxing dan phishing tertarget juga meningkat. Dalam beberapa kasus, data kesehatan dan kebiasaan hidup bahkan dapat diperjualbelikan.

Kaspersky menyoroti bahwa produsen wearable murah atau kurang dikenal berpotensi memonetisasi data pengguna, meski diklaim dalam bentuk agregat, kepada pihak ketiga seperti pengiklan, broker data, hingga perusahaan asuransi.

Risiko tersebut semakin besar di negara dengan sistem layanan kesehatan berbasis swasta.

Data pola tidur, tren detak jantung, dan lokasi aktivitas fisik bisa memengaruhi penilaian risiko kesehatan, yang berujung pada kenaikan premi asuransi.

Dari sisi teknis, perangkat dengan harga terjangkau kerap memiliki sistem keamanan yang lebih lemah.

Mulai dari enkripsi cloud yang buruk, kerentanan perangkat lunak yang belum diperbaiki, hingga server yang tidak terlindungi optimal.

Celah tersebut berpotensi memicu kebocoran data dalam skala luas.

“Pelacak kebugaran berbiaya rendah bisa menjadi pintu masuk eksploitasi digital. Pengguna sebaiknya menempatkan keamanan data sebagai prioritas utama, bukan hanya faktor harga,” ujar Anna Larkina, pakar privasi Kaspersky, dalam keterangannya.

Sebagai langkah pencegahan, pengguna disarankan memilih merek wearable yang memiliki reputasi kuat dan sistem keamanan jelas.

Selain itu, penting untuk membatasi jumlah aplikasi kebugaran yang digunakan, membaca kebijakan privasi, serta mengatur aktivitas latihan menjadi privat.

Pengguna juga dianjurkan hanya mengunduh aplikasi dari toko resmi dan tetap waspada terhadap aplikasi palsu.

Kesadaran digital dinilai menjadi kunci utama agar tren hidup sehat tidak berubah menjadi ancaman keamanan data pribadi.

Kategori :