Jam Tangan Pintar Ternyata Bisa Jadi Senjata Penjahat Siber, Kok Bisa? Begini Kata Pakar

Jam Tangan Pintar Ternyata Bisa Jadi Senjata Penjahat Siber, Kok Bisa? Begini Kata Pakar

Tanpa disadari, kebiasaan membagikan aktivitas kebugaran dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber, seperti doxing, penipuan phishing, hingga risiko kenaikan premi asuransi kesehatan.-Foto: Ist-

OKINEWS.CO - Antusiasme olahraga meningkat seiring digelarnya Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 yang resmi dimulai pada 6 Februari 2026.

Ajang olahraga dunia tersebut menyedot perhatian jutaan penonton global, sekaligus memicu banyak orang untuk menjalani gaya hidup sehat.

Mulai dari berlangganan gym, berlari di luar ruangan, hingga memanfaatkan perangkat wearable untuk memantau kesehatan.

Namun, di balik tren hidup aktif yang terus berkembang, ancaman terhadap keamanan data pribadi ikut mengintai.

BACA JUGA:Smartwatch Entry-Level Rasa Flagship, Ini Alasan Haylou Watch 4 Layak Dibeli, Dijamin Gak Boncos!

BACA JUGA:Cincin Pintar Samsung: Fitur Kesehatan yang Gantikan Smartwatch

Tanpa disadari, kebiasaan membagikan aktivitas kebugaran dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber, seperti doxing, penipuan phishing, hingga risiko kenaikan premi asuransi kesehatan.

Perangkat kebugaran seperti smartwatch, gelang pintar, atau cincin digital kini mampu merekam berbagai data biometrik.

Mulai dari jumlah langkah, kualitas tidur, kadar oksigen dalam darah, hingga detak jantung.

Bahkan, pengguna dapat menambahkan informasi kesehatan lain, seperti berat badan, golongan darah, dan konsumsi cairan harian.

BACA JUGA:Amazfit Bip 6 Bikin Smartwatch Murah Jadi Terasa Mahal, Kok Bisa?

BACA JUGA:Rekomendasi 5 Smartwatch Apple Terbaik Tahun Ini

Masalah muncul saat data tersebut dibagikan secara terbuka, terutama melalui fitur GPS.

Aktivitas olahraga yang dipublikasikan di aplikasi atau media sosial dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk melacak pergerakan seseorang secara real time.

Sumber: